[Review] Rumah Kopi Singa Tertawa

Judul: Rumah Kopi Singa Tertawa
Penulis: Yusi Avianto Pareanom
Jumlah Halaman: 172 halaman
Penerbit: Banana

Rumah Kopi Singa Tertawa. Eww, apaan tuh yak? kira kira kaya gitu deh, reaksi awal saya ketika pertama kali baca judul. Aneh. Semakin aneh karena saya malah jadi keingetan judul film horseks Hantu Puncak Datang Bulan. Keduanya punya judul yang sekilas kagak
nyambung sama sekali. Untungnya, dari segi kualitas Rumah Kopi Singa Tertawa jauh mengungguli film horseks tersebut. Kemudian saya mulai mencoba menebak apa sebenarnya arti dari judul absurd itu.

Tebakan pertama, Rumah Kopi Singa Tertawa, bisa berarti sebuah rumah kopi yang di dalamnya ada singa yang lagi tertawa. Jadi kalau kamu kebetulan lagi minum kopi di situ, jangan kaget kalau menjumpai singa yang lagi duduk ngopi ngopi, sambil tertawa. Aum..aum..aumumuum..<=== kira kira kaya gini ketawanya.
Tebakan kedua, Rumah Kopi Singa Tertawa bisa berarti sebuah rumah yang jual kopi khusus buat singa, manusia dilarang masuk. Karena khusus buat singa, tentu saja di dalamnya bakal ada singa singa yang tertawa. Jadi kalau kamu ingin minum kopi di sana, pasti
tidak boleh.
Penjaga: kamu tidak boleh masuk. Ini khusus singa!
Kamu: *brb berubah jadi singa* udah boleh masuk kan?
Penjaga: Tetep gak boleh!
Kamu: Lho, kan udah jadi singa.
Penjaga: Tapi hari ini khusus singa betina doang. Kamu kan jantan. Mending beli kopi di toko sebelah aja tuh!
Kamu: Gak jadi deh. Mo gantung diri ajah!! *ngambek*

Rumah Kopi Singa Tertawa sebenarnya sebuah kumpulan cerpen dari penulis Yusi Avianto Pareanom. Di dalamnya terdapat 18 cerpen, termaasuk cerpen Rumah Kopi Singa Tertawa yang sekaligus menjadi judul buku ini. Tidak usah panjang lebar lagi, markitbahsatsat, alias mari kita bahas satu satu. Setuju? Yang setuju angkat tangan. Yang tidak setuju angkat barbel.

Tapi, setelah dipikir pikir, kalau semuanya dibahas, nanti jadi kepanjangan. Sedikit saja kalau begitu. Jadi, intinya semua cerpen di buku ini, bisa bikin tertawa sekaligus mikir. Cerpen Cara Cara Mati Yang Kurang Aduhai misalnya. Ada banyak kematian di sini, tapi dibawakan dengan cara yang jenaka. Sampai sampai membuat saya sedikit merasa berdosa, sebab dengan enaknya menertawakan nasib buruk orang lain. Lain lagi cerpen Dosa Besar no 14. Bercerita tentang Malik, yang sedang menulis daftar dosa yang pernah ia lakukan sepanjang hidupnya. Lalu, dosa apakah yang menempati posisi 14 itu? Selain menggelitik, cerita ini juga sedikit mengingatkan saya akan dosa dosa saya sendiri. Jika ditulis satu persatu, berapa banyak dosa saya? Ah, tak mampu saya bayangkan…
Dan, cerpen Rumah Kopi Singa Tertawa, menurutmu memang ada singanya atau tidak? Tapi,saya beritahu, cerpen ini unik, dan aduhai.

Buku ini lucu, sekaligus kritis dengan caranya sendiri. Ada beberapa isu isu sosial yang dihadirkan dengan pas, tanpa ada kesan menggurui, yang ditulis dengan gaya penceritaan yang begitu enak buat dibaca. Kemudian ditutup dengan ending yang mengguncang. Pada akhirnya, Rumah Kopi Singa Tertawa telah membuat saya tertawa dengan cara yang aduhai.

Rating 5 out of 5

Advertisements